Jakarta, FORTUNE - Suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) tercatat terus merangkak naik hingga mencapai level 5,25 persen pada periode November 2022. Namun demikian, kenaikan suku bunga perbankan masih sangat terbatas.
Gubernur BI Perry Warjoyo menyatakan, kenaikan suku bunga dana maupun suku bunga kredit lebih terbatas. Suku bunga deposito 1 bulan misalnya pada Oktober 2022 merangkak naik menjadi 3,40 persen dari 2,89 persen pada Juli 2022 lalu.
"Masih terbatasnya kenaikan suku bunga tersebut seiring dengan likuiditas yang masih longgar yang memperpanjang efek tunda (lag effect) transmisi suku bunga kebijakan pada suku bunga dana dan kredit," jelas Perry melalui konferensi video di Jakarta, Kamis (17/11).
Sementara itu, untuk suku bunga kredit hingga Oktober 2022 juga terus meningkat meski terbatas menjadi 9,09 persen dari 8,94 persen pada Juli 2022.
Likuiditas bank diyakini masih longgar
Meski demikian, BI memandang kondisi likuiditas di perbankan masih sangat memadai dalam mendukung intermediasi perbankan.
Pada Oktober 2022, rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) masih tinggi mencapai 29,46 persen dan meningkat dari bulan sebelumnya. Selain itu, likuiditas perekonomian juga tetap longgar, tercermin pada uang beredar dalam arti sempit (M1) dan luas (M2) yang tumbuh masing-masing sebesar 14,9 persem (yoy) dan 9,8 persen (yoy).
"Likuiditas yang masih longgar tersebut turut memberikan dorongan untuk pemulihan ekonomi lebih lanjut," kata Perry.
Likuiditas perbankan pada Oktober 2022 juga tetap terjaga didukung oleh pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 9,41 persen (yoy) dan meningkat dibandingkan bulan sebelumnya sejalan dengan net ekspansi Pemerintah.
Kredit tumbuh kuat 11,95%
Sementara itu, intermediasi perbankan melanjutkan perbaikan dan mendukung pemulihan ekonomi. Pertumbuhan kredit pada Oktober 2022 tercatat sebesar 11,95 persen (yoy), ditopang oleh peningkatan di seluruh jenis kredit dan hampir seluruh sektor ekonomi. Pemulihan intermediasi juga terjadi pada perbankan syariah, dengan pertumbuhan pembiayaan sebesar 18,4 persen (yoy).
Di satu sisi, permodalan perbankan juga tetap kuat dengan rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio (CAR) September 2022 tetap tinggi sebesar 25,09 persen.
Seiring dengan kuatnya permodalan, risiko tetap terkendali yang tercermin dari rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan /NPL) pada September 2022 yang tercatat 2,78 persen (bruto) dan 0,77 persen (neto).